Senin, 15 Desember 2014

Konseling bagi ODHA (Orang dengan HIV / AIDS)

Beberapa hari ini saya mengikuti kegiatan KPA (Kelompok Peduli AIDS). Terakhir, tadi pagi juga masih mengikuti pertemuan di sebuah rumah sakit. Setelah beberapa lama saya akui acuh tak acuh dengan masalah ini, sekarang saya mulai peduli. Bukan karena saya seorang paramedis. Bukan pula karena seminar, pelatihan dan berjubel video yang saya tonton. Yang membuat saya peduli adalah saat saya bertemu dengan pasien.

Saya ngga mau bicarain prosedur pengobatan, pencegahan, whatever itu bisa anda cari sendiri di mbah gugel. Tenang, duduk dan bicara dengan mereka, kalian pasti ngerti. Satu kasus yang saya lihat ini tentang pengucilan. Ulangi sekali lagi ya,,ini tentang pengabaian.Kronologinya pasti kalian bisa menebak, seorang meninggal karena AIDS, dan imbasnya sang anak kena.

Dia masih kecil. Yang dia tahu hanya bermain dan sekolah itu menyenangkan. Lalu saat stigma itu menyebar, ada lebih dari rasa kasihan yang saya rasakan saat melihatnya. Diabaikan lebih menyakitkan daripada ditolak. Kalau ditolak jelas ya ada tindakan. Tapi kalau diabaikan itu sangat menyedihkan. Proses konseling saya rasa juga diperlukan untuk keluarga yang ditinggalkan. Terlepas mereka positif atau tidak. 

Sulit untuk merubah stigamatisasi di masyarakat. Bahkan yang terpelajar pun dengan mudahnya menilai seseorang yang terkena HIV/AIDS adalah manusia yang engga bener : kalau bukan narkoba ya seks bebas. Mereka adalah orang yang mencap orang lain buruk supaya kelihatan diri mereka lebih baik. Masalah ini kemudian diatasi dengan sosialisasi. Banyak waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk memberi pendidikan masyarakat bahwa HIV/AIDS tidak menular semudah itu.Tetapi hal ini kembali pada individu masing-masing. Tidak perlu bicara yang susah seperti HIV/AIDS, gosip dan labelisasi adalah hal yang umum di lingkungan kita. Orang begitu nyinyir dan getolnya membicarakan masalah orang tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.Kalau sudah begitu ya kembali ke pribadi masing-masing.

Konseling bagi ODHA bukan hanya untuk penggalian informasi semata, tetapi lebih untuk memenuhi kebutuhan psikologis ODHA. Rasa sepi, marah pada diri sendiri, sedih, belum lagi masih harus mengatasi sakit yang dirasakan. Perasaan kalau divonis AIDS itu pasti mati. ODHA butuh itu. Konselor harusnya bertindak sebagai 'sahabat', bukan hanya datang karena disuruh atasan atau memang tugasnya. Kebahagian meningkat, otomatis semangat hidup ODHA membaik. 



Jumat, 05 Desember 2014

Desa Siaga


Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan secara mandiri.

Tujuan desa siaga adalah terwujudnya masyarakat yang sehat serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.

Sasaran pengembangan desa siaga :

  1.  Semua individu dan keluarga di desa yang mampu melaksanakan hidup sehat serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
  2. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh perempuan dan pemuda, kader serta petugas kesehatan.
  3. Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang-undangan, dana, tenagam sarana dan lain-lain, seperti kepala desa, camat, para pejabat terkait, swasta, para donatur dan pemangku kepentingan lainnya.

Kriteria desa siaga
suatu desa bisa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut sekurang-kurangnya telah memiliki sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)




dari Kurikulum & Modul, Pelatihan Bidan Poskesdes dalam Pengembangan Desa Siaga
Departemen Kesehatan RI
2008